Contoh Laporan Penjualan Harian untuk UMKM
Laporan penjualan harian membantu pemilik warung, toko, atau kedai mengetahui omzet, produk terlaris, dan kecocokan transaksi dengan uang yang…
Cara mengetahui produk paling laris: catat penjualan per produk, tentukan satu periode yang sama (harian, mingguan, atau bulanan), lalu urutkan dari jumlah terjual terbanyak. Bandingkan juga omzet dan laba kotor, karena produk paling laris belum tentu paling menguntungkan untuk tokomu.

Tahu produk paling laris di toko bikin kamu lebih gampang atur stok, nggak kehabisan barang yang paling dicari, dan paham apa yang sebenarnya dibutuhkan pelanggan.
Tapi ingat: yang paling banyak terjual belum tentu yang paling banyak kasih untung. Di artikel ini kamu akan belajar cara menghitungnya, membandingkannya dengan omzet dan laba kotor, lalu memakai hasilnya untuk belanja stok.
Produk paling laris adalah barang dengan penjualan tertinggi dalam periode tertentu. Ukurannya bisa jumlah unit terjual atau nilai penjualan (omzet).
Contoh: dalam sehari warungmu menjual 50 botol air mineral dan 20 bungkus kopi. Dari jumlah unit, air mineral paling laris. Tapi kalau dilihat dari omzet, hasilnya bisa beda, karena produk yang lebih mahal bisa menghasilkan uang lebih banyak walau terjual lebih sedikit.
Kalau catatanmu hanya berisi "hari ini dapat Rp1.200.000", kamu tidak akan tahu barang mana yang paling dicari. Setiap transaksi perlu mencatat nama produk dan jumlah yang terjual.
Di aplikasi kasir, ini terjadi otomatis setiap kali kamu memilih produk saat transaksi.

Pilih periode: harian, mingguan, atau bulanan. Yang penting konsisten. Bandingkan minggu ini dengan minggu lalu, jangan satu minggu dengan satu hari.
Untuk toko yang ramai, evaluasi mingguan membantu kamu melihat perubahan permintaan lebih cepat.
Jumlahkan unit terjual tiap produk dalam periode tersebut, lalu urutkan dari yang terbanyak.
Contoh penjualan warung selama satu minggu:
| Peringkat | Produk | Jumlah terjual |
|---|---|---|
| 1 | Air mineral | 120 botol |
| 2 | Mi instan | 95 bungkus |
| 3 | Kopi kemasan | 70 bungkus |
| 4 | Biskuit | 45 bungkus |
| 5 | Susu kemasan | 30 kotak |
Dari sisi jumlah unit, air mineral jadi produk paling laris minggu itu.
Produk A terjual 100 unit × Rp3.000 = Rp300.000. Produk B terjual 40 unit × Rp10.000 = Rp400.000.
Produk A lebih laris dari jumlah unit, tapi Produk B menghasilkan omzet lebih besar. Pakai ukuran yang sesuai tujuanmu:
Produk terlaris bisa berubah karena musim, promo, harga, atau kebiasaan pelanggan. Jangan ambil keputusan dari data satu hari saja. Catatan beberapa minggu memberi gambaran yang jauh lebih akurat.
Tidak. Keuntungan ditentukan oleh selisih harga jual dan HPP (harga pokok penjualan), bukan hanya jumlah terjual.
| Keterangan | Produk A | Produk B |
|---|---|---|
| Jumlah terjual | 100 unit | 40 unit |
| Harga jual per unit | Rp3.000 | Rp10.000 |
| HPP per unit | Rp2.500 | Rp6.000 |
| Omzet | Rp300.000 | Rp400.000 |
| Laba kotor | Rp50.000 | Rp160.000 |
Produk A paling laris, tapi Produk B memberi laba kotor tiga kali lipat lebih besar. Laba kotor di sini = omzet − HPP barang terjual, sebelum biaya operasional seperti gaji dan sewa.
Jadi, lihat tiga angka sekaligus: jumlah terjual, omzet, dan laba kotor.
Menghitung manual memakan waktu, apalagi kalau barangmu banyak. Di Sabi POS, semua transaksi tercatat per produk, jadi kamu tinggal buka laporannya.

Sabi POS juga punya stok dengan peringatan stok menipis, jadi produk laris yang hampir habis lebih cepat ketahuan sebelum benar-benar kosong.
Kalau kamu tidak selalu di toko, laporan bisa dilihat dari HP pantau owner dan ikut terbarui dalam hitungan detik saat online.

Aplikasi tetap jalan tanpa internet, dan semua fitur sudah termasuk di setiap paket tanpa biaya per transaksi. Mau lihat sendiri? Coba demo Sabi POS gratis tanpa daftar, atau cek harga paketnya.
Untuk mengetahui produk paling laris, catat penjualan per produk, tentukan periode yang sama, lalu urutkan dari jumlah terjual terbanyak. Setelah itu, bandingkan omzet dan laba kotornya supaya keputusanmu tidak hanya berdasarkan jumlah barang.
Pakai hasilnya bersama data stok untuk menentukan barang mana yang perlu dibeli lebih dulu. Dengan pencatatan rutin, keputusan belanja jadi berdasarkan data, bukan perkiraan.
Catat jumlah barang yang terjual dalam satu periode, lalu urutkan dari yang terbanyak. Produk di urutan pertama adalah produk paling laris pada periode tersebut.
Tidak. Keuntungan dipengaruhi HPP dan biaya lain. Produk yang terjual lebih sedikit bisa memberi laba kotor lebih besar kalau selisih harga jual dan HPP-nya lebih tinggi.
Sesuaikan dengan usahamu: harian, mingguan, atau bulanan. Yang penting periodenya konsisten supaya hasilnya bisa dibandingkan.
Data ini membantu memperkirakan berapa banyak barang yang perlu disediakan. Tetap cek stok aktual dan lama pengiriman dari pemasok sebelum belanja.
Bisa, kalau aplikasinya punya laporan penjualan per produk. Di Sabi POS, produk terlaris dan laba kotor langsung tampil di menu Laporan.
Laporan penjualan harian membantu pemilik warung, toko, atau kedai mengetahui omzet, produk terlaris, dan kecocokan transaksi dengan uang yang…
Uang kas bisa tidak sesuai dengan catatan penjualan karena transaksi terlewat, salah memasukkan nominal, transaksi batal, atau pembayaran belum…
Keuntungan warung dihitung dari omzet penjualan dikurangi HPP dan biaya operasional. HPP membantu mengetahui biaya barang yang terjual. Dengan…